Gedung-Gedung Tua dan motif kaca Patri di Indonesia

kaca patri jogja

Motif Kaca Patri – Zaman kolonial yang dialami oleh Indonesia dalam kurun waktu yang lama, meninggalkan banyak hal dari berbagai sendi kehidupan. Selain perkara-perkara terkait konsidi ekonomi dan sosial, kolonialisme juga meninggalkan benda-benda dan bangunan bersejarah yang terkait erat  dengan kebudayaan.

Ketika Belanda menguasai Indonesia, mereka membangun gedung-gedung yang difungsikan sebagai kantor, rumah tinggal para petinggi, maupun tempat ibadah dan benteng pertahanan. Mereka membangun dengan cita rasa arsitektur yang mereka gandrungi. Khas gaya kolonial Belanda klasik selama akhir abad 18 hingga awal abad ke 19. Hingga kini, beberapa bangunan peninggalan mereka masih terawat dengan baik dan dijadikan spot wisata.

Jika diamati, bangunan-bangunan peninggalan era kolonial tersebut memiliki kekhasan, yaitu terdapat ornamen kaca patri di dalamnya. Kaca yang termasuk golongan kaca hias ini disebut-sebut mampu memantulkan cahaya matahari dan membuatnya seolah menari.

Beberapa gedung yang hingga kini masih dapat dinikmati dan dipelajari arsitekturnya diantaranya adalah gedung lawang sewu di Semarang, Jawa Tengah. Gedung yang dahulu difungsikan sebagai kantor kereta api ini telah mengalami beberapa kali renovasi. Lawang sewu memiliki beberapa titik yang menampilkan keindahan kaca patri, diantaranya adalah gedung A. Disana, kaca patri yang didominasi warna biru, merah dan hijau memantulkan cahaya dengan apik, selaras dengan dinding yang dicat putih bersih.

Bangunan ikonik lainnya adalah Museum Bank Mandiri, wilayah kota tua, Jakarta. Berbicara mengenai arsitektur kaca patri, museum bank mandiri adalah salah satu gedung penyimpan prasasti kaca patri yang terkenal. Kaca patri yang terdapat disana adalah pemberian Karel CJ van Aalast, presdir ke 10 NHM Batavia. Prasasti kaca patri tersebut terbagi menjadi dua bagian, satu bagian menampilkan empat musim di Eropa, sementara bagian lainnya melukiskan alam Indonesia.

Selain dua gedung tersebut, ada satu lagi museum yang menghadirkan keindahakan arsitektur kaca patri; Museum Bank Indonesia. Setidaknya terdapat 324 kaca patri disana, hasil rancangan biro arsitek terkenal Ed Cuypers dan Hulswit. Bahkan sejak tiba di lobi museum, kita sudah dapat menyaksikan kaca patri yang kabarnya dipasang pada tahun 1935 dan kesemuanya dibuat di Atelier Jan Schouten, Delft, Belanda lalu sengaja diangkut ke Indonesia untuk mempercantik bangunan yang dulunya difungsikan sebagai De Javasche bank ini.

Tiga gedung tersebut memiliki desain kaca patri masing-masing, namun semuanya indah dan dipasang pada lokasi yang tepat sehingga semakin elok dilihat.